Jumat, 04 Oktober 2013
SEJARAH MONUMEN NASIONAL


 

 Bulan ini merupakan bulan istimewa bagi Rakyat Indonesia, di bulan Agustus ini tepatnya pada tanggal 17 Agustus bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan setelah lama bangsa kita dijajah Belanda dan sekutnya. kegembiraan kemerdekaan ini di lamabangkan dengan beberapa monumen dan beberapa tugu peringatan, salah satunya adalah Monumen Nasional yang sering disingkat dengan sebutan Monas. Monas juga sering dianggap sebagai simbol ibukota Jakarta. banyak orang menganggap jika belum ke Monas berarti belum menginjakan kaki di ibukota.

Monumen Nasional atau Monas dibangun pada tahun 17 agustus 1961 yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno dan dibuka untuk umum pada 12 juli 1975. Monumen Nasional berada di tengah lapangan medan merdeka letaknya tepat berada di tengah-tengah nya. Awal pembangunan Monumen Nasional ini Presiden Soekarno terinspirasi oleh menara Eiffel yang berada di perancis. setelah diadakan sayembara yang diikuti oleh kurang lebih 135 hanya satu yang memenuhi kriteria yaitu Frederic Silaban, akhirnya Presiden Soekarno meminta bantuan R.M Soedarsono untuk merancang bangunan yang diinginkan Presiden pertama Indonesia ini.

Akhirnya di tangan R.M Soedarsono dan Frederic Silaban berdirilah Monumen Nasional yang juga sebagai lambang semangat kemerdekaan. Sesuai dengan makna dari bangunan ini, dimasukan pula unsur-unsur kemerdekaan yaitu perpaduan 17- 8-45 dalam pembangunan monumen nasional ini. pembangunan monas ini sempat tertunda saat terjadi gerakan 30 september 1965 yang dikenal dengan G30 S PKI. yang menarik adalah sebelum bernama monas, monumen ini berganti nama hingga 5 kali yaitu lapangan gambir, lapangan ikada, lapangan merdeka, lapangan monas dan yang terakhir Taman Monas.

Yang istimewa dari monumen nasional ini adalah obor emas yang ada di puncaknya, obor ini mempunyai berat 38 kilogram emas dan 28 kilogram dari total keseluruhan adalah sumbangan dari soerang pengusaha yang bernama Teuku Markam yang juga merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Monumen Nasioal mempunyai tinggi sekitar 132 meter, untuk naik ke puncak monas bisa menggunakan lift. dari atas monas kita bisa melihat sebagian dari kota Jakarta, selain itu di dalam monas juga terdapat beberapa diorama dan relief-relief pada dinding  yang juga bergambar beberapa pahlawan nasional.

Bila berkunjung ke ibukota Jakarta belum lengkap rasanya bila belum berkujung ke Monumen Nasional atau Monas.

SUMBER : http://news.flyontiket.com/news/sejarah-monumen-nasional
Posted by Unknown
ANGKLUNG



Sejarah

Angklung adalah alat musik terbuat dari dua tabung bambu yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu. Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan. Dua tabung tersebut kemudian ditala mengikuti tangga nada oktaf. Untuk memainkannya, bagian bawah dari bingkai ini dipegang oleh satu tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkan angklung secara cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Hal ini akan menghasilkan suatu nada yang berulang. Dengan demikian, dibutuhkan sebanyak tiga atau lebih pemain angklung dalam satu ensembel, untuk menghasilkan melodi yang lengkap.

Angklung telah populer di seluruh Asia Tenggara, namun sesungguhnya berasal dari Indonesia dan telah dimainkan oleh etnis Sunda di Provinsi Jawa Barat sejak zaman dahulu. Kata “angklung” berasal dari dua kata “angka” dan “lung”. Angka berarti “nada”, dan lung berarti “putus” atau “hilang”. Angklung dengan demikian berarti “nada yang terputus”.

Pada perioda Hindu dan Kerajaan Sunda, Jawa Barat, angklung memegang peranan sangat penting pada beberapa upacara ritual masyarakat Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai perantara dalam ritual, angklung dimainkan untuk menghormati Dewi Sri, dewi kesuburan, dengan harapan agar negeri dan kehidupan mereka dapat diberkati. Di kemudian hari, menurut Kidung Sunda, alat musik ini juga digunakan oleh Kerajaan Sunda untuk penyemangat dalam situasi pertempuran di Perang Bubat.

Angklung tertua yang masih ada sampai kini ialah Angklung Gubrag. Angklung ini dibuat pada abad ke-17 di Jasinga,Bogor. Pada saat ini, beberapa angklung dari zaman dahulu masih tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.

Seiring berjalannya waktu, angklung telah menarik banyak perhatian di dunia internasional. Pada tahun 1938, Daeng Soetigna, dari Bandung, menciptakan angklung yang berdasarkan tangga nada diatonik, alih-alih menggunakan tangga nada tradisional pélog atau saléndro. Sejak saat itu, angklung digunakan untuk tujuan pendidikan dan hiburan, dan bahkan dapat pula dimainkan bersama dengan alat-alat musik Barat dalam orkestra. Salah satu penampilan angklung dalam orkestra yang sangat terkenal ialah pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Udjo Ngalagena, seorang murid dari Daeng Soetigna, kemudian membuka “Saung Angklung” (Rumah  Angklung) pada tahun 1966 sebagai pusat pengembangan angklung.

UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Budaya Takbenda dan Warisan Budaya Dunia pada tanggal 18 November 2010. Di samping itu, UNESCO menyarankan dengan sangat kepadaIndonesia untuk senantiasa menjaga dan melestarikan karya dan warisan budayanya.

SUMBER : http://www.angklungeindhoven.com/id/about/history-of-angklung/

SEJARAH ANGKLUNG

Posted by Unknown

Copyright © Sepvita 9E 20 -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan